Kakinya yang kuat mendaki tanah
yang lebih tinggi di hutan untuk menemukan jaringan internet, setelah terhubung
dengan jaringan internet, dengan segera siswa tersebut langsung mengikuti
pembelajaran daring. Hutan dan rumah adalah tempat belajar bagi siswa saat
“belajar dari rumah” diberlakukan.
Sejak Covid-19 menjadi
pandemi, wajah dunia mendadak berubah dengan dratis. Manusia menjalani tata
kehidupan yang baru. Bekerja dan belajar dari rumah, tidak luput ibadah juga
sangat disarankan untuk di rumah, demi memutus matarantai penyebaran Covid-19.
Pembelajaran daring diterapkan agar siswa tetap belajar di tengah isu corona.
Beragam kendala dalam pembelajaran daring datang silih berganti, jaringan internet yang tidak semua tempat
mewadahi, paket data yang tidak semua orang tua mampu membeli, gadged yang
tidak semuanya support dengan aplikasi pembelajaran daring. Guru dituntut
cerdas untuk mengatasi dengan metode yang sederhana agar pembelajaran daring
tetap berjalan dengan efektif.
Pembelajaran daring yang
diterapkan disekolah kami sungguh beragam, ada yang menggunakan google
classroom, google form, quizizz, media youtube, video, blog, vlog, WA group,
zoom, quiper. Setiap guru menggunakan media pembelajaran daring yang
dianggap lebih mudah untuk menyesuaikan, tak ayal siswa kadang merasa kesulitan
dengan media yang banyak, kecuali media yang biasa digunakan sebelumnya.
Pembelajaran daring diterapkan dengan
memanfaatkan blog yang dimiliki oleh setiap siswa. Penugasan
kepada siswa lebih pada curah pendapat seputar Covid-19, karyanya ditulis ada yang dalam bentuk puisi, artikel
maupun pengalaman pribadi.
Semua tugas disarankan untuk disimpan
di blognya masing-masing, namun karena siswa belum terbiasa menggunakan blog,
tidak semua siswa mampu meski hanya sekedar menyimpan. Guru menerima tugas dari
siswa secara daring sesuai dengan kemampuan setiap siswa
Tanpa bimbingan guru secara
langsung, siswa juga merasakan kesulitan dan susah memahami saat mengerjakan
tugas khususnya mata pelajaran eksata, meski sudah diskusi intens melalui WA
group. “Susahnya saya memahami perintah
dari handphone,” tuturnya. Siswa terbebani dengan banyaknya
tugas-tugas yang diberikan guru dan merasa “keteteran”. Siswa menuturkan bahwa
belajar lebih mudah saat berkomunikasi secara langsung, “kadang belajar
secara langsung saja sulit, apalagi belajar dengan jarak jauh”. Meski guru
sudah memberikan penjelasan, namun siswa kadang kurang jelas memahaminya
Siswa juga menuturkan “pembelajaran
di internet banyak sekali godaan yang menganggu peroses pembelajaran entah itu
menonton film, bermain game dan sosial
media, cara mengatasi kesulitan tersebut dengan saya menonaktifkan semua
notifikasi sosmed”. Hal ini yang mengkuatirkan kita
semua, disaat kita memaksakan untuk pembelajaran daring disisi lain ada
kemungkinan siswa yang justru semakin tidak produktif dalam menggunakan
tekhnologi.
Pembelajaran daring disisi lain memberikan efek yang positif, perjuangan menghadapi beragam tugas menjadikan
siswa lebih siap menghadapi tantangan yang lebih berat dikemudian hari, siswa mampu
belajar secara mandiri dan mampu memperoleh variasi belajar, siswa menjadi tangguh, pekerja keras, kreatif.
Belajar dalam jaringan menguji siswa terhadap seribu godaan, saat mereka mampu
melewatinya, hakikinya siswa sukses dalam belajar. Siswa menjadi cerdas, mampu menemukan
solusi saat menghadapi kesulitan dalam pembelajaran daring.
Belajar
dari rumah saat pandemi corona
menjadi suatu yang wajib, sampai kapan berakhir? Semua berharap secepatnya,
guru ditantang untuk lebih tangguh, mampu menemukan metode yang tepat untuk
siswa. “Belajar dari Rumah Aja,” untuk memutus mata rantai corona.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar